Posted By in AgriProFocus Indonesia
Posted 11 August 2017 at 09:44

Baca versi bahasa di bawah

Master educated young women back to village to start organic farming

Apni Olivia Naibaho, 34 years old, quit job in capital city to start organic farming. She founded Siantar Sehat in 2013 and now work with 6 other female farmer to produce organic vegetables and processed vegetables into healthy snack. Two Months a go, Siantar Sehat has launched its apps to make consumer easy to buy the healthy organic vegetables.

Apni Olivia Naibaho, a young female farmer from Pematang Siantar, North Sumatera is one of our Young Agripreneurz Ambassador 2016 finalist and been honored as most dedicated participant. Before become a farmer, she is graduate from master program in one of university in Jakarta and used to work in capital city for years. During that time, whenever she come home to Pematang Siantar, she looks at the way of farming that all the farmers in her region done : using pesticide and chemical fertilizer massively. This way of farming affects the products quality, farmers health, and the sustainability of fertile soil. Other than that, trading relation of agriculture product put the farmers into great debt, for example to buy agriculture input, and most of the farmer in her area have debt to pay.

Seeing this fact, he felt compelled to think of better farming practices as well as freeing farmers from debt. Apni then decided to quit the job that promised regular income, and follow the organic farming course in Sentul, West Java, for 3 months. Armed by the knowledge she got from the course, she went home and became an organic farmer. She founded Siantar Sehat, an agricultural enterprise that promotes organic farming and a fair price for farmers.

Apni started organic farming by renting piece of land and making the her land as a pilot for organic practice. She makes her own fertilizer and controls plant pests an disease naturally. At that time, not many farmers are interested because organic practices are considered complicated and troublesome. When the first harvest has come, Apni sold the vegetables in traditional markets. However, a slightly higher price compared to non-organic vegetables made consumer not interested, even if the quality is better. Moreover, buyers in traditional markets come from various circles so it is difficult to educate to consume organic products.

This experience makes Apni aware, fixing the practice of farming alone is not enough. She must open the market of organic products by starting consumer education. Apni then targeted government offices in Pematang Siantar to start an organic fever. Gradually the market of organic products grew, even to Medan, capital city of North Sumatra 3 hours by motor from Pematang Siantar. Apni requires more and more products to meet the demand.

Since she established organic farming Siantar Sehat in 2013, Apni always invites other farmers, especially women, to start organic farming. She became a mentor, demonstrating farming practices that are environmentally friendly and cheap in term of agricultural inputs. Apni educates farmers that farming is not solely for business but also caring for the earth and producing high quality food while protecting farmers from exposure to chemicals.

Apni currently partners with 6 female farmers producing organic vegetables in their respective fields. The products is expanding, not only fresh vegetables but also processed healthy vegetable snack. In order to reach outer and diverse markets, Siantar Sehat makes an apps that make it easier for customers to order organic vegetables. Apni is more confident as a liaison between producers and consumers as well as the exchange of organic ideas.
---

Kembali ke Desa Demi Bertani Organik

Apni Olivia Naibaho, petani muda perempuan dari Pematang Siantar, Sumatera Utara, ini adalah finalis Duta Petani Muda 2016. Sebelum menjadi petani, perempuan berpendidikan master ini telah bekerja di Jakarta selama beberapa tahun. Setiap kali pulang kampung ke Pematang Siantar, ia melihat cara bertani petani di daerahnya yang menggunakan pestisida dan pupuk kimia secara masif. Cara bertani yang seperti ini tentu mempengaruhi kualitas hasil pertanian, kesehatan petani, dan membuat tanah tidak subur. Selain itu, model pertanian seperti ini membuat petani banyak berhutang input pertanian, hampir semua petani di daerahnya punya utang yang harus dibayar.

Melihat kenyataan ini, Apni merasa terpanggil untuk memikirkan cara bertani yang lebih baik sekaligus membebaskan petani dari hutang. Apni lantas memutuskan keluar dari pekerjaan yang menjanjikan pendapatan rutin, dan mengikuti kursus pertanian organik di Sentul, Jawa Barat, selama 3 bulan. Berbekal ilmu dari kursus, dia pulang kampung dan menjadi petani organik. Ia mendirikan Siantar Sehat, usaha pertanian yang mempromosikan pertanian organik dengan harga yang adil bagi petani.

Apni memulai bertani organik dengan menyewa lahan dan menjadikan lahannya sebagai percontohan. Dia membuat pupuk sendiri dan mengendalikan hama penyakit tanaman secara alami. Saat itu, tidak banyak petani yang tertarik karena praktik organik dinilai ribet dan merepotkan. Ketika panen pertama kali, Apni menjual sayurnya di pasar tradisional. Namun harga yang lebih tinggi sedikit dibanding dengan sayur non-organik di pasar tidak diminati konsumen walau kualitasnya lebih bagus. Lagipula pembeli di pasar tradisional berasal dari beragam kalangan sehingga sulit melakukan edukasi produk organik.

Pengalaman ini membuat Apni sadar, membenahi praktik bertani saja tidak cukup. Dia harus membuka pasar produk organik dengan memulai edukasi konsumen. Apni kemudian menyasar kantor-kantor pemerintahan di Pematang Siantar untuk memulai demam organik. Lambat laun pasar produk organik tumbuh, bahkan sampai kota Medan yang jaraknnya 3 jam berkendara. Apni memerlukan produk yang lebih banyak dan beragam untuk memenuhi permintaan.

Sejak memulai bertani organik tahun 2013, Apni selalu mengajak petani lain, terutama perempuan, untuk memulai bertani organik. Dia menjadi mentor, menunjukkan cara bertani yang ramah lingkungan sekaligus tidak memerlukan biaya tinggi untuk membeli input pertanian. Apni mengedukasi petani bahwa bertani tidak semata-mata untuk bisnis tetapi juga merawat bumi dan menghasilkan bahan pangan yang berkualitas sekaligus melindungi petani dari paparan zat kimia.

Saat ini Apni bermitra dengan 6 petani perempuan memproduksi sayur organik di lahan masing-masing. Produknya pun kian berkembang, tak hanya sayuran segar tetapi juga olahan snack sayuran yang sehat. Agar dapat menjangkau pasar yang lebih luar dan beragam, Siantar Sehat membuat apps yang memudahkan pelanggan memesan sayur organik. Apni semakin mantap menjalankan peran sebagai penghubung antara produsen dan konsumen serta pertukaran gagasan organik.

arafat nengkoda nengkoda senang rasanya mendengar berita ini...semoga kedepannya semakin baik...yang disayangkan, jarang ada yang komentar ya, karena dengan ada nya komentar yang bersifat membangun, maka tercipta jaringan yang kondusif, wawasan waewasan baru, saling bertukar inovasi ataupun informasi yang berujung meningkatkan taraf kesejahteraan, di indonesia sudah mulai digalakan atau ada program bertani bagi anak-anak usia dini agar mereka mmengerti dengan apa yang mereka makan, tetapi sangat disayangkan program tersebut umumnya di sekolah yang elit saja.

1 week 10 hours ago

Maula Paramitha Wulandaru Betul Mas, belum banyak yang berkomentar, perlu distimulasi terus. Untuk edukai anak usia sekolah namun tidak terintegrasi dengan sekolah, salah satunya sudah diinisiasi oleh Daeng Jamaluddin Dg Abu

5 days 9 hours ago